Selasa, 03 Februari 2015

Women of The Years

Women of The Years

Akhir Januari ini dunia menggelar event kecantikan yangsudah digelar setiap tahun. Event yang digunakan untuk memilih seorang wanita yang memiliki kecantikan, kecerdasan dan kepedulian sosial yang tinggi, ya itulah ajang Miss Universe. Setiap Negara di seluruh dunia mengirimkan “wanita pilihan”-nya untuk membawa nama bangsanya di kancah internasional.
Event Miss Universe 2014 (namun digelar tahun 2015) kali ini digelar di tempat yang sangat eksotis di Amerika. Yap kini giliran Doral, Miami yang menjadi tuan rumah ajang kecantikan dunia ini, tepatnya di Trump National Doral, Miami. Jika kaum laki-laki dapat membanggakan negaranya melalui ajang Piala Dunia yang digelar 4 tahun sekali, kaum wanita juga mampu mengharumkan negaranya lewat ajang ini. Miss Universe adalah ajang untuk memperkenalkan bangsa-bangsa di dunia lewat kecantikan dari delegasi negaranya.
Pada awal acara, setiap peserta memasuki “arena pertandingan” dengan berlenggak lenggok memamerkan kostum nasionalnya. Indonesia sebagai salah satu Negara yang mengikuti ajang tersebut mengirimkan Putri terbaiknya Elvira Devinamira (21 tahun) asal Surabaya. Satu persatu peserta memamerkan kostumya. Ajang kecantikan memang identik dengan pakaian yang seksi dan memamerkan bentuk tubuh, namun pada segmen kostum nasional ini tidak semua Negara memamerkan pakaian yang seksi seperti halnya Bulgaria, China, Korea, Jepang, Italia, Republik Dominika, Libanon, Norwegia, Portugal, Spanyol dan Swedia. Negara-negara tersebut memamerkan kostum nasionalnya yang tertutup namun tetap membuat pemakaianya terlihat anggun diatas panggung.
Disamping kostum yang tertutup, ada juga beberapa kostum yang menarik seperti kostum yang memiliki gelembung besar seperti kostum dari Negara Costarica, Ethiophia, dan Poerturico. Beberapa Negara juga memiliki kostum lucu seperti Negara Nikaragua, Venezuela yang menyerupai bentuk pohon emas, Amerika Serikat dan Ghana. Dari banyaknya kostum-kostum nasional yang diperagakan dipilih 5 besar kostum terbaik oleh para juri yaitu India, Indonesia, Argentina, Kanada dan Jerman. Penilaian selanjutnya dilakukan voting melalui media social twitter.
Indonesia sebagai Negara dengan jumlah pengguna twitter terbanyak menjadi potensi besar untuk memenangkan kostum nasional terbaik apabila voting dilakukan melalui twitter, dan hal tersebut benar terjadi. Kostum nasional Indonesia yang dikenakan oleh miss Indonesia 2014, Elvira Devinamira berhasil menjadi juara kostum terbaik. Kostum yang didesain oleh seorang desainer Jember ini bertemakan The Chronicle of Borobudur memiliki berat 20 kg dan dibuat oleh 10 orang pekerja. Desainer Dynand Fariz juga merupakan desainer kelas atas yang mendesain berbagai kostum untuk ajang-ajang nasional dan internasional. Diajang nasional Dynand Fariz sering menjadi desainer di acara Jember Fashion Carnival





Elvira Devinamira berhasil masuk Top 15 dari 88 wanita yang beruntung di dunia, jelas hal ini sungguh membanggakan bagi Indonesia karena ia berhasil sejajar dengan wanita-wanita lain di dunia. Setelah terpilih Top 15, peserta kembali diseleksi menjadi Top 10. Namun, Indonesia belum mendapat kesempatan untuk memasuki 10 besar. Dari 10 besar terpilihlah 5 kandidat Miss Universe terbaik yaitu perwakilan dari Jamaika, Columbia, Amerika Serikat, Belanda dan Ukraina. Hasil akhir dari berbagai seleksi yang telah dilalui oleh para peserta termasuk seleksi dalam menjawab pertanyaan yang diajukan pemirsa melalui media social Facebook telah menentukan wanita terpilih yang menjadi Miss Universe. Miss Jamaika menjadi juara 5, Miss Netherland (Belanda) menjadi juara 4, juara 3 dan 2 berturut-turut dari Ukraina dan Amerika Serikat dan Miss Colmbia berhasil menyabet gelar Miss Universe 2014 yaitu Paulina Vega.

Resume Perkuliahan Mata Kuliah Lembaga Keuangan Islam

Resume Perkuliahan Mata Kuliah Lembaga Keuangan Islam
Bumi Siliwangi, 02 Februari 2015 Ruang G.04
Disampaikan oleh Dr. Ika Putera Waspada M.M

Dewasa ini, banyak muncul berbagai macam lembaga keuangan  baik yang bersifat konvensional maupun yang berlandaskan prinsip ajaran islam atau yang mudah dikenal dengan titel syariah. Namun pada dasarnya semua lembaga keuangan memiliki prinsip yang sama yaitu prudent, sistem dan manajemen. Semua lembaga keuangan memiliki trend yang sama dimana mereka mencari trust dari para nasabah dan membangun sebuah kekuasaan keuangan.
Saat ini di Indonesia lembaga keuangan perbankan belum mampu bersinergi dengan para UMKM yang mengakibatkan sulitnya koordinasi UMKM dengan lembaga keuangan Bank. Bank seharusnya melakukan “pendekatan” terhadap para pelaku UMKM sebagai penyongsong perekonomian nasional. Sosialisasi mengenai peran dan fungsi perbankan perlu dilakukan untuk “membuka mata” para pelaku UMKM. Cara kerja para rentenir yang memiliki kedekatan dengan para ‘nasabah’-nya merupakan salah satu cara kerja yang harus ditiru oleh perbankan.
Dalam melakukan pendekatan kepada nasabah harus menggunakan berbagai teori sosiologi dan antropologi khususnya antropologi masyarakat pedesaan yang notabene belum ‘akrab’ dengan dunia perbankan. Penawaran terhadap kesanggupan membayar kredit mutlak harus dilakukan agar kedua belah pihak (bank dan nasabah) memiliki kesepakatan bersama yang tidak merugikan satu sama lain seperti yang dilakukan dalam prinsip islam dalam kegiatan bagi hasil yang terlebih dahulu melakukan kesepakatan pembagian hasil usaha. Bank-bank tertentu sudah banyak yang membuka cabang di daerah pedesaan namun karena masih ada anggapan bahwa bank merupakan lembaga keuangan bagi seseorang yang memiliki harta yang banyak maka para petani maupun pelaku UMKM yang ada di pedesaan enggan untuk memasuki bank. Oleh karena itu, ‘Rahasia Sukses Para Rentenir’ kembali bisa kita gunakan untuk menarik para nasabah yaitu dengan ‘blusukan’ meghampiri para calon maupun para nasabah baik itu untuk melakukan penjemputan penyicilan kredit maupun untuk keperluan lainnya.

Jumat, 30 Januari 2015

Dimana Bintang yang Dulu Kugantungkan ?


Dimana Bintang yang Dulu Kugantungkan ?

Pada awalnya aku memang tak ingin ikut temanku untuk menemuinya. Aku tidak memiliki cukup keberanian unuk kembali menatap matanya, untuk bertegur sapa dengannya. Aku tak berani. Namun, dengan alasan ini adalah karya aku dan temanku (S) maka aku ikut untuk menemuinya berdiskusi bersama. Entah apa yang terjadi setiap kali kami berdiskusi, aku selalu ingin menumpahkan segala yang ia ucapkan melalui sebuah tulisan.
Aku dan S memang suka membuat karya tulis bersama, kali ini setelah sekian lama tak bersua dengannya ada lagi kesempatan untuk bertemu. Aku ingat perkataan salah satu kakak tingkat untuk memutus interaksi ketika kita mulai merasakan sesuatu yag tak seharusnya kita rasakan. Aku bertekad untuk itu, lama sekali tak bertemu. Akun facebook-nya aku blokir. Namun tak bertahan lama, aku unblock. Aku tak memiliki keberanian untuk kembali meminta pertemanan.
Semenjak Mei 2014 aku, S dan dia pergi ke Bali untuk persentasi lomba karya tulis ilmiah, aku belum pernah lagi masuk final. Aku malu, mungkin aku adalah kader yang gagal. Aku berusaha dan gagal, berusaha lagi gagal lagi. Kakak tingkatku yang “jagoan” dalam menulis karya ilmiah pernah berkata padaku bahwa ia pada awalnya mengalami kegagalan menulis selama 8 kali. Lalu setelah itu, dia mulai berhasil dan memenangkan beberapa lomba karya tulis ilmiah. Itulah caraku untuk menghibur diri sendiri ketika gagal, yaitu dengan mengingat kegagalan orang lain. Namun, disisi lain aku malu aku tak ingin terlihat seperti aku tak bisa tanpanya. Aku harus membuktikan bahwa ku bisa melakukan sesuatu tanpa bantuannya.
Karya tulis yang pernah kubuat dengan teman-teman lain diantaranya adalah :
1.      Pro-Kreasi (Program Kreativitas Siswa) sebagai Upaya untuk Menggali Kreativitas Siswa Tingkat Atas Indonesia di Era Ekonomi Kreatif. Mendapatkan juara pertama lomba karya tulis tingkat Program Studi Pendidikan Ekonomi
2.      TFC (Traditional Food Center): Solusi untuk Meningkatkan Eksistensi Pangan Lokal di Era ASEAN Economic Community 2015. Hanya meraih peringkat 18 (waiting list)
3.      “E-SALAM : Model Pembelajaran Solutif Untuk Menciptakan Muslimpreneur Muda Kreatif dan Inovatif bagi Siswa Tingkat Atas di Indonesia”. Masih gagal dan tidak menembus final.
4.      Dewan Pengawas Tempat Pelelangan Ikan Sebagai Upaya Meningkatkan Usaha dan Kesejahteraan Nelayan di Daerah Pelabuhan Ratu Sukabumi (Jawa Barat). Belum lolos juga.
Kadang aku lelah dan mulai menyerah. Namun, aku tak mungkin melakukannya, karena sifat putus asa adalah sifat yang dibenci oleh Allah. Hari ini setelah bertemu dengannya aku merasa digampar. Aku yang selama hidup tanpanya seperti kehilangan bahan bakar penyemangat mesin hati yang kering dan berdebu. Tak bisa berjalan, hanya ditempat. Belum ada prestasi lain yang aku torehkan tanpanya.bahkan prestasi yang sudah ada menurun.
Aku selalu bertanya pada Allah, mengapa ia selalu memperlihatkan keindahan dari hamba-Nya yang satu itu ? Membuatku kembali terkagum kagum. Namun dengan begitu, aku tak lagi memimpikannya. Aku terlalu realistis untuk berharap dapat memetik bintang tanpa memiliki sebuah pesawat.
Sejuta rencana masa depan yang ia utarakan membuatku semakin menggigil. Mana rencana masa depanmu ? Dimana kau gantungkan cita-cita yang dulu kau simpan setinggi langit, dimana cita-cita itu. Kini aku menyadari alangkah terlalu muluk-muluknya diriku yang masih memikirkan masalah cinta masa depan dibandingkan dengan kualitas hidup dimasa depan. Betapa dangkalnya aku yang masih memikirkan cinta di usia yang harusnya aku sedang produktif-produktifnya dalam menghasilkan suatu karya, menghasilkan suatu prestasi yang membanggakan orang tua. Tak pernahkan engkau malu masih berpangku tangan terhadap orang tua di usiamu yang sekarang ini.
AMPUNI AKU YA ALLAH UNTUK MENJADI ANAK YANG BELUM BISA ORANG TUA BANGGAKAN L

Jumat, 23 Januari 2015

My Fakhri

Nama “Fakhri” dalam puisi ini bukan nama yang sebenarnya, hanya sebuah analogi kepada tokoh utama laki-laki di film Ayat-Ayat Cinta.

My Fakhri

Engkau telah membuka mataku akan pentingnya cita, cinta dan citra
Engkau ajarkan aku arti hidup sebenarnya
Menjadikan misi-misi di dunia untuk menggapai visi akhirat
Seret aku, tuntun aku, peluk aku dengan ilmumu
Raih dan genggam tanganku bersamamu
Rengkuh aku dengan kasih sayangmu karena-Nya
 Gejolak hati ini, semoga bukanlahh sebuah nafsu belaka
Melainkan bukti kekagumanku terhadap ciptaan-Nya yang sangat kusayangi

Ana uhibbuka fillah ya Fakhri … ya Akhi

He’s My Fakhri

Sebuah puisi dari jiwa yang sedang kering mendamba cinta …
Masih belajar nulis puisi hehehe …

He’s My Fakhri

Subhanallah …
Engkau telah menciptakan seorang ikhwan tangguh
Seorang ikhwan dengan seribu visi sejuta misi
Kepatuhan dan ketaatannya pada-Mu membuatku malu

Tak kuasa rasanya memandang keindahan yang ada
Betapa rendah aku, tak pantas aku bersamanya
Tapi mimpi ini selalu ada …
Harapan ini selalu muncul untuk bersamanya

Angan merajut asa, menggapai surga-Mu bersamanya
Bergenggaman tangan untuk saling menguatkan menuju ridha-Mu
SALAHKAH ? Hamba-Mu yang hina ini,
Hamba-Mu yang kotor ini berharap sebuah mutiara yang bersinar dilautan kehidupan

Hamba mau, bahkan memimpikannya rasanya tak pantas

Senin, 19 Januari 2015

Inspirasi setelah Nonton “Kehormatan di Balik Kerudung”

Hari ini tiba-tiba aku mencemaskan tentang masa depanku. Masa depan yang aku tak tau akan bagaimana jadinya bila aku belum bisa membahagiakan Mamah dan Bapak, atau bahkan masa depan yang harus aku lalui tanpa Mamah dan Bapak. Akan jadi apa aku tanpa Mamah dan Bapak ? Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul hari ini, ketika milyaran manusia di bumi berkejaran untuk mendapatkan masa depan yang cerah, aku sedang apa ? Aku akan jadi apa ? Aku harus harus bagaimana ?
Usiaku sudah 20 tahun. Apa yang sudah aku berikan untuk Mamah dan Bapak ? Lebih banyak kebahagiaan atau malah kesedihan ? Orang tua yang selalu memperjuangkan kebahagiaanku, walau kadang aku tak menyadarinya, walau mungkin caranya yang salah. Maafkan aku Mah.
Masa depan yang lain menantiku. Sebagai insan dengan cinta, akupun merindukannya. Kapan, dimana dan seperti apa masa depanku aku tak tahu. Namun, ketidaktahuan tidak lebih menyedihkan dibandingkan dengan tidak adanya masa depan. Dengan tidak adanya kepercayaan diri yang kumiliki, aku harus bagaimana ? Bahkan hati ini meragukan aku bisa bahagia seperti orang lain.
Insan-insan yang menderita karena cinta, lalu menjadi egois dan sangat frustasi. Aku takut. Bagaimana keegoisan Syahdu yang menelan banyak korban, termasuk  dirinya sendiri.
            Walau Tuhan menjanjikan syurga yang indah, hatinya tetap sakit. Pun itu yang dirasakan pada Sofhia, Aisyah bahkan mungkin di dunia nyata seperti Teh Ninih. Berbagi tak selamanya membawa kebahagiaan, inilah yang terjadi saat kita membagi cinta. Cinta yang hanya ingin kita arungi berdua, namun terpaksa harus ada penumpang lain yang berada di kapal kehidupan yang sedang kita arungi. Nahkoda satu, namun tanggungjawabnya ada dua. Sungguh keadilan akan sulit ditegakkan sekalipun  diadili oleh hakim tersohor di dunia.
            Kini aku mengerti ketika aku jelaskan kepada Bibiku, bahwa perempuan yang dengan rela dan ikhlas dimadu, maka jaminan syurga baginya. Ia tak bergeming. Sejurus kemudian ia menjawab bahwa akan berpikir ribuan kali untuk dimadu walaupun jaminannya syurga. Setelah menonton film “Kehormatan di Balik Kerudung”, kini aku mengerti bahwa kata ikhlas tidak sepenuhnya mampu menghapus sakit yang akan dirasakan ketika dimadu. Bagaimana Sofhia dan Syahdu sama-sama memeras air mata walau mereka mendapatkan orang yang mereka sayangi, Ifand.

Pertanyaan lalu muncul, adakah perempuan berhati lembut layaknya Sofhia yang rela membagi cinta yang telah lama ia idam-idamkan ? Adakah laki-laki sepengertian dan sepenyayang Ifand yang masih peduli kepada orang yang pernah disayanginya ketika sakit yang masih menghargai istrinya walau mungkin ia tak mencintainya ? Adakah perempuan yang karena begitu kuat cintanya terhadap lelaki membuatnya begitu tersiksa jiwa dan raga lalu membuat ego menggunung sehingga kebaikan Sofhia  bagai sebutir pasir di Pantai layaknya Syahdu ?. Jawabanyya hanya Tuhan yang tahu.

Jumat, 12 Desember 2014

Curahan Hati Mahasiswa tentang Fasilitas Publik yag bernama Perpustakaan

Ada yang bilang bahwa pemerintah merupakan cerminan masyarakatnya. Tidak heran bahwa pemerintah Indonesia banyak memiliki citra negatif, entah kinerjanya yang tidak sesuai dengan perolehan gaji, hobi mangkir kerja, berbagai bentuk korupsi seperti korupsi waktu sampai korupsi uang. Itulah yang saya kesalkan saat ini, sebagai salah seorang pengguna fasilitas publik seperti perpustakaan, saya merasa kesal ketika pelayanan perpustakaan yang tidak ramah ditambah lagi hobi korupsi waktu. Penjaga buru-buru ngumumkan perpustakaan akan tutup. Padahal, waktu untuk tutup masih ada setengah jam lagi.
Ketika saya masukuntuk membayar denda, dengan wajah yang tidak menceriminkan keramahan petugas menanyakan “mau kemana neng ? bukannya perpustakaan akan tutup?”, saya jawab “Mau bayar denda pak”. Padahal dalam hati, saya ingin jawab “Heloo pak, waktu untuk buka masih ada kelees”. Sebenarnya kekesalan saya dimulai pada awal masuk perpustakaan, penjaga sedang enak-enaknya tidur di tempat tugasnya, dengan malas ia membawakan kunci loker. Ketika saya mau meminjam tas perpustakaan, tidak ada jawaban malah enak-enakan bersandar di kursinya. Setelah saya mengerasakan suara saya, barulah ia memberi respon, itupun dengan jawaban “bawa aja sendiri neng”. Huaaaa rasanya Allah sedang mengujiku lewat penjaga yang satu ini. KESAL.
Teringat saat kejadian salah satu mahasiswa yang kehilangan laptop yang disimpan di loker. Penjaga berkata bahwa “Saya tidak bertanggungjawab atas segala bentuk kehilangan”. Lalu saya bertanya, lalu untuk apa ada penjaga dan mereka diberi gaji ?. tidak sampai disitu, saya juga kembali teringat ketika salah seorang penjaga kesal karena mahasiswa tidak mengucapkan kata “Terimakasih” saat mengembalikan kunci loker. Betapa mereka juga manusia biasa yang ingin dihormati, namun apakah sebagai seorang manusia yang sudah dewasa mereka sudah memberikan pelayanan yang baik ?

Suatu tanda tanya besar bagi saya sebagai rakyat biasa. Memang saya juga tidak terlepas lagi khilaf, namun tulisan saya ini merupakan luapan bentuk kekesalan seorang mahasiswa yang hobi menulis. Segala kritik mungkin akan saya dapatkan, apalagi cacian. Sudah biasa. Rasulullah sebagai manusia paling mulia saja banyak yang menbenci dan mencaci, apalagi saya.