Jumat, 12 Desember 2014

Curahan Hati Mahasiswa tentang Fasilitas Publik yag bernama Perpustakaan

Ada yang bilang bahwa pemerintah merupakan cerminan masyarakatnya. Tidak heran bahwa pemerintah Indonesia banyak memiliki citra negatif, entah kinerjanya yang tidak sesuai dengan perolehan gaji, hobi mangkir kerja, berbagai bentuk korupsi seperti korupsi waktu sampai korupsi uang. Itulah yang saya kesalkan saat ini, sebagai salah seorang pengguna fasilitas publik seperti perpustakaan, saya merasa kesal ketika pelayanan perpustakaan yang tidak ramah ditambah lagi hobi korupsi waktu. Penjaga buru-buru ngumumkan perpustakaan akan tutup. Padahal, waktu untuk tutup masih ada setengah jam lagi.
Ketika saya masukuntuk membayar denda, dengan wajah yang tidak menceriminkan keramahan petugas menanyakan “mau kemana neng ? bukannya perpustakaan akan tutup?”, saya jawab “Mau bayar denda pak”. Padahal dalam hati, saya ingin jawab “Heloo pak, waktu untuk buka masih ada kelees”. Sebenarnya kekesalan saya dimulai pada awal masuk perpustakaan, penjaga sedang enak-enaknya tidur di tempat tugasnya, dengan malas ia membawakan kunci loker. Ketika saya mau meminjam tas perpustakaan, tidak ada jawaban malah enak-enakan bersandar di kursinya. Setelah saya mengerasakan suara saya, barulah ia memberi respon, itupun dengan jawaban “bawa aja sendiri neng”. Huaaaa rasanya Allah sedang mengujiku lewat penjaga yang satu ini. KESAL.
Teringat saat kejadian salah satu mahasiswa yang kehilangan laptop yang disimpan di loker. Penjaga berkata bahwa “Saya tidak bertanggungjawab atas segala bentuk kehilangan”. Lalu saya bertanya, lalu untuk apa ada penjaga dan mereka diberi gaji ?. tidak sampai disitu, saya juga kembali teringat ketika salah seorang penjaga kesal karena mahasiswa tidak mengucapkan kata “Terimakasih” saat mengembalikan kunci loker. Betapa mereka juga manusia biasa yang ingin dihormati, namun apakah sebagai seorang manusia yang sudah dewasa mereka sudah memberikan pelayanan yang baik ?

Suatu tanda tanya besar bagi saya sebagai rakyat biasa. Memang saya juga tidak terlepas lagi khilaf, namun tulisan saya ini merupakan luapan bentuk kekesalan seorang mahasiswa yang hobi menulis. Segala kritik mungkin akan saya dapatkan, apalagi cacian. Sudah biasa. Rasulullah sebagai manusia paling mulia saja banyak yang menbenci dan mencaci, apalagi saya. 

Minggu, 24 Agustus 2014

Bandung, 25 Agustus 2014
Pameran Pendidikan Jepang

Hari ini ada kegiatan Pameran Pendidikan Jepang yang diselenggarakan  oleh PT. FUJISTAFF INDONESIA yang digelar di dua kota di Indonesia, yaitu Jakarta dan Bandung. Hari ini aku mengunjungi pamerannya yang di Bandung, tepatmya di Aula Timur ITB. Aku berangkat bersama sahabat dan kakak tingkatku. Rasanya senang sekali, aku tidak mau terlambat pada hari ini. Aku sangat tahu sekali bahwa orang Jepang adalah orang yang gila kerja dan sangat menghargai waktu. Itulah salah satu alasan aku tidak mau telat hari ini. Namun, karena suatu hal akhirnya aku telat juga. L
                Pameran Pendidikan Jepang yang diselenggarakan di Bandung tidak sekumplit yang di Jakarta, sayang sekali. Universitas Waseda tidak bisa mempresentasikan kampusnya, padahal PT. PUJISTAFF INDONESIA bekerjasama dengan sekitar 8 Univeritas di Jepang yang akan diperkenalkan melalui Pameran Pendidikan kali ini yaitu Kyoto International Academy, Waseda University, Tokyo International University, The University of Tokyo, Ritsumeikan Asia Pasific University, Kwansei Gakuen University dan Kansai University of International Studies. Namun,  ada juga Shizuoka University dan Hokkaido University. Pameran disediakan dalam bentuk seminar dan juga disediakan stand untuk para pengunjung yang ingin menanyakan segala sesuatu tentang universitas yang diminati. Tidak hanya universitas, disana juga ada pengenalan tentang sekolah belajar Bahasa Jepang, sekolah tinggi kejuruan Jepang dan yang paling diinginkan mahasiswa Indonesia yaitu Informasi lembaga penyedia beasiswa hihi kereeen kan kumplit.
                Aku mengikuti seminar yang mempresentasikan tentang Tokyo International University, pada awalnya aku kira itu adalah University of Tokyo, namun ternyata berbeda. Presentasi dilakukan oleh 3 orang, 2 diantaranya adalah orang Jepang, tentunya memakai Bahasa Inggris. Namun, yang paling banyak melakukan presentasi adalah asistennya yaitu kak Fitri. Sepertinya Kak Fitri merupakan salah satu mahasiswi Indonesia yang berkuliah disana, kereeen bingit Bahasa Jepangnya. Setelah presentasi aku mulai tertarik pada kampus ini, ya walaupun usianya lebih muda dari kampusku sekarang, Universitas Pendidikan Indonesia tercinta hehe.
                Seminar dilanjutkan dengan presentasi dari JET (Japanese Education in Tokyo) yaitu sebuah sekolah Bahasa Jepang bagi calon pelajar asing yang ingin melanjutkan studi di Jepang. JET berada di  Tokyo. Aiiih keren sekali. Kelasnya limited edition yaitu sekitar 10-20 orang per kelas. Kegiatannya juga tidak hanya belajar bahasa Jepang di dalam ruangan kelas, namun juga ada karya wisata. Ms. Mayumi yang merupakan agen JET yang tinggal di Bandung mempresentasikan tentang JET dengan bahasa Indonesia yang fasih looh. Hanya huruf ‘r’nya masih kurang jelas hihihih
                Dalam angket yang diberikan pada saat registrasi, ada pertanyaan tentang jurusan yang diminati, aku masih bingung ingin memilih jurusan apa. Namun, setelah mengikuti presentasi dari TIU (Tokyo International University) sepertinya aku mulai tertarik pada jurusan Ilmu Ekonomi, tapi jurusan Hubungan International juga menggiurkan karena sesuai dengan cita-citaku waktu SMP yaitu menjadi seorang diplomat. Hehe masih bingung juga siih. Setelah mengikuti 2 presentasi, akhirnya aku mengunjungi berbagai stand yang disediakan, aku memutuskan untuk mengunjungi stand TIU dulu, kucoba menanyakan pada kak Fitri tentang bagaimana jika seseorang yang sudah dinyatakan lulus dan mendapatkan beasiswa 80% (misalnya), namun ia terpaksa mengundurkan diri karena tidak sanggup membayar. Jika tahun selanjutnya ia masih ingin mencoba masuk universitas itu apa bisa langsung melanjukan, atau mengikuti proses seleksi dari awal ? Dan jawabannya adalah tetap mengikuti seleksi dari awal, namun kemungkinan mendapatkan beasiswa 80% sudah dangat lebar. Gimana ada yang sudah berminat ?
                Aku dan kawan-kawan juga mengunjungi stand Shizuoka University (dulu sempet bacanya ‘sizuka’ hehe kayak tokoh di kartun Doraemon aja yaa ). Mereka menanyakan asal universitas dan jurusan kami, mereka terkejut mendengar kami semua yang duduk di stand saat itu adalah mahasiswi UPI. Shizouka University memang memiliki kerjasama dengan UPI. (hehe jadi bangga). Namun sayangnya narasumbernya pake Bahasa Inggris. Omaigat aku masih jelek Bahasa Inggrisnya, huaaaa L

                Aku mendapatkan buku Panduan Belajar di Jepang, kereeeen bingit dong. Aku semakin dekat dengan impianku. Doraemon, Naruto, Detektif Conan tunggu aku yooo. Mimpi berkuliah di Jepang memang bukanlah hal yang mudah, namun bukan berarti sulit didapat kan ? Ingat saat mau UN ? Pasti soalnya banyak yang sulit, namun ketika kita berusaha, berdoa dan bekerja keras pasti soal yang sulit akan terasa mudah. Ganbatte, Sousou, Fighting, Semangat !!!Bandung, 25 Agustus 2014
Pameran Pendidikan Jepang

Hari ini ada kegiatan Pameran Pendidikan Jepang yang diselenggarakan  oleh PT. FUJISTAFF INDONESIA yang digelar di dua kota di Indonesia, yaitu Jakarta dan Bandung. Hari ini aku mengunjungi pamerannya yang di Bandung, tepatmya di Aula Timur ITB. Aku berangkat bersama sahabat dan kakak tingkatku. Rasanya senang sekali, aku tidak mau terlambat pada hari ini. Aku sangat tahu sekali bahwa orang Jepang adalah orang yang gila kerja dan sangat menghargai waktu. Itulah salah satu alasan aku tidak mau telat hari ini. Namun, karena suatu hal akhirnya aku telat juga. L
                Pameran Pendidikan Jepang yang diselenggarakan di Bandung tidak sekumplit yang di Jakarta, sayang sekali. Universitas Waseda tidak bisa mempresentasikan kampusnya, padahal PT. PUJISTAFF INDONESIA bekerjasama dengan sekitar 8 Univeritas di Jepang yang akan diperkenalkan melalui Pameran Pendidikan kali ini yaitu Kyoto International Academy, Waseda University, Tokyo International University, The University of Tokyo, Ritsumeikan Asia Pasific University, Kwansei Gakuen University dan Kansai University of International Studies. Namun,  ada juga Shizuoka University dan Hokkaido University. Pameran disediakan dalam bentuk seminar dan juga disediakan stand untuk para pengunjung yang ingin menanyakan segala sesuatu tentang universitas yang diminati. Tidak hanya universitas, disana juga ada pengenalan tentang sekolah belajar Bahasa Jepang, sekolah tinggi kejuruan Jepang dan yang paling diinginkan mahasiswa Indonesia yaitu Informasi lembaga penyedia beasiswa hihi kereeen kan kumplit.
                Aku mengikuti seminar yang mempresentasikan tentang Tokyo International University, pada awalnya aku kira itu adalah University of Tokyo, namun ternyata berbeda. Presentasi dilakukan oleh 3 orang, 2 diantaranya adalah orang Jepang, tentunya memakai Bahasa Inggris. Namun, yang paling banyak melakukan presentasi adalah asistennya yaitu kak Fitri. Sepertinya Kak Fitri merupakan salah satu mahasiswi Indonesia yang berkuliah disana, kereeen bingit Bahasa Jepangnya. Setelah presentasi aku mulai tertarik pada kampus ini, ya walaupun usianya lebih muda dari kampusku sekarang, Universitas Pendidikan Indonesia tercinta hehe.
                Seminar dilanjutkan dengan presentasi dari JET (Japanese Education in Tokyo) yaitu sebuah sekolah Bahasa Jepang bagi calon pelajar asing yang ingin melanjutkan studi di Jepang. JET berada di  Tokyo. Aiiih keren sekali. Kelasnya limited edition yaitu sekitar 10-20 orang per kelas. Kegiatannya juga tidak hanya belajar bahasa Jepang di dalam ruangan kelas, namun juga ada karya wisata. Ms. Mayumi yang merupakan agen JET yang tinggal di Bandung mempresentasikan tentang JET dengan bahasa Indonesia yang fasih looh. Hanya huruf ‘r’nya masih kurang jelas hihihih
                Dalam angket yang diberikan pada saat registrasi, ada pertanyaan tentang jurusan yang diminati, aku masih bingung ingin memilih jurusan apa. Namun, setelah mengikuti presentasi dari TIU (Tokyo International University) sepertinya aku mulai tertarik pada jurusan Ilmu Ekonomi, tapi jurusan Hubungan International juga menggiurkan karena sesuai dengan cita-citaku waktu SMP yaitu menjadi seorang diplomat. Hehe masih bingung juga siih. Setelah mengikuti 2 presentasi, akhirnya aku mengunjungi berbagai stand yang disediakan, aku memutuskan untuk mengunjungi stand TIU dulu, kucoba menanyakan pada kak Fitri tentang bagaimana jika seseorang yang sudah dinyatakan lulus dan mendapatkan beasiswa 80% (misalnya), namun ia terpaksa mengundurkan diri karena tidak sanggup membayar. Jika tahun selanjutnya ia masih ingin mencoba masuk universitas itu apa bisa langsung melanjukan, atau mengikuti proses seleksi dari awal ? Dan jawabannya adalah tetap mengikuti seleksi dari awal, namun kemungkinan mendapatkan beasiswa 80% sudah dangat lebar. Gimana ada yang sudah berminat ?
                Aku dan kawan-kawan juga mengunjungi stand Shizuoka University (dulu sempet bacanya ‘sizuka’ hehe kayak tokoh di kartun Doraemon aja yaa ). Mereka menanyakan asal universitas dan jurusan kami, mereka terkejut mendengar kami semua yang duduk di stand saat itu adalah mahasiswi UPI. Shizouka University memang memiliki kerjasama dengan UPI. (hehe jadi bangga). Namun sayangnya narasumbernya pake Bahasa Inggris. Omaigat aku masih jelek Bahasa Inggrisnya, huaaaa L
                Aku mendapatkan buku Panduan Belajar di Jepang, kereeeen bingit dong. Aku semakin dekat dengan impianku. Doraemon, Naruto, Detektif Conan tunggu aku yooo. Mimpi berkuliah di Jepang memang bukanlah hal yang mudah, namun bukan berarti sulit didapat kan ? Ingat saat mau UN ? Pasti soalnya banyak yang sulit, namun ketika kita berusaha, berdoa dan bekerja keras pasti soal yang sulit akan terasa mudah. Ganbatte, Sousou, Fighting, Semangat !!!

Info tentang Belajar di Jepang join aja  http://belajardijepang.co.id/home

Kamis, 21 Agustus 2014

Bagaimana Melupakan Orang yang bukan Muhrim

Setelah tidak berinteraksi dan bertemu dengannya sekian lama, hati ini masih saja tersangkut disana. Dimana ? Entahlah akupun tak mengerti. Aku sudah lama untuk mencoba untuk melupakannya, walapaupun aku tahu itu akan sulit, namun aku ters mencobanya. Kini bayang-bayangnya muncul lagi, bagaimana ini Ya Allah ? Apa yang harus aku lakukan ? Tidak bisakah Engkau hapus saja rasa dan ingatanku padanya ?

Selasa, 19 Agustus 2014

Cilok dan Cinlok di KOPMA BS UPI

Terik mentari membakar seluruh permukaan kota Bandung pagi ini. Burung-burung menggeliat terbangun dari sarangnya yang hangat. Tak terkecuali tempat kosanku. Aku bergegas menyambar handuk dan pergi mandi. Yaaaps walaupun aku bisa dibilang mahasiswa ‘angkot’ alias angkatan kolot aku ga pernah kehabisan semangat kalau berurusan dengan rutinitas di kampus. Aku sangat menyadari masa muda ini haruslah menggelora, tak boleh ada sedetikpun waktu tanpa ilmu. Karena masa depan cerah sedang merentangkan tangannya untuk menyambutku.
Kuliah hari ini cukup melelahkan, berendelan ceramah dosen dan angka-angka yang dilukiskan di whiteboard seakan menari-nari di kepalaku sejak tadi pagi sampai sore ini. Namun lelah ini akan segera terobati ketika bertemu dengan kawan-kawan seperjuangan di sebuah organisasi tercinta. Yaaps that is KOPMA BS UPI. Tempat menepi ketika cacing diperut mulai karaokean selepas penatnya waktu kuliah ini telah membuatku jatuh cinta saat pendengaran pertama. Loh kok pendengaran pertama ? ya karena saat jadi mahasiswa baru dulu aku dikenalkan dengan KOPMA BS UPI melalui celotehan kakak tingkat, bahkan aku belum tahu dimana dan makhluk macam apa KOPMA BS UPI itu. Hihihi
Dua tahun berlalu dengan cepat, kini hal yang sudah membuatku jatuh cinta pada pendengaran pertama ini sudah aku miliki. Aku sudah menjadi salah satu pengurus KOPMA BS UPI. Detik demi detik aku habiskan untuk mengabdi disini, di tempat yang memberiku berjuta tawa dan kebahagiaan bersama kawan se-Universitas Pendidikan Indonesia.
Hari ini tidak ada jadwal kuliah, kuputuskan untuk stay at kosan keduaku ini. Melihat para karyawan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing rasanya gatal tangan ini ingin membantu, walau hanya dengan do’a. Eh hehe. Satu jajanan yang menjadi ‘Primadona’ di KOPMA BS UPI adalah CI to the LOK, yaaps. Cilok ini sudah menjadi ratu dihatiku eh salah di perutku deng. Kakiku bergegas menuruni tangga. Turun dari lantai dua ruangan pengurus. Pemandangan antrian di depan stand cilok pada jam 11-2 siang sudah menjadi biasa. Para mahasiswa baik cewek maupun cowok rela mengantri untuk mendapatkan si Primadona. Namun, antrian kali ini berbeda dari hari-hari biasanya.
“Waaah antriannya panjang banget ya bu” aku mengahampiri bu Nenden penjaga stand cilok yang baru.
“Iya a, ada mahasiswa baru ya sekarang teh ?” jawab bu Nenden sambil terus membalikan cilok di penggorengan. 
Muhun bu. Wios ku abdi urang bantosan bu, kasian meni tambih panjang kitu antriana” jawabku sambil menerobos melewati antrian. Aku membantu membungkus setiap cilok yang dipesan, sedangkan bu Nenden sibuk menggoreng. Tiba-tiba sudut mataku melihat ke arah antrian, seorang mahasiswi yang terlihat sudah angkatan atas menyelip masuk ke sela-sela antrian, otomatis pengantri dari belakang protes. Tapi anehnya pengantri yang tepat dibelakang mahasiswi tadi justru tidak bergeming sedikitpun. Hingga tiba bagian si pengantri ‘nyele’ tadi.
A aku beli tiga tusuk yang kering pake bumbu kacang kecapnya banyakin pake asin dikit pedesnya satu sendok gak pake bumbu keju,”ucapnya nyerocos tanpa titik koma.
“Maaf teh. Tadi teteh ‘nyele’ kan ? Silahkan antri dari awal teh, kasian kan pengantri yang lain udah lama nunggu” jelasku tanpa memandang ke arah mahasiswi tersebut.
“Apa apaan ini ? saya udah cape-cape gini, malah disuruh antri dari awal ?”ia bicara dengan nada tinggi.
“Gak apa-apa kang, mungkin teteh ini lagi buru-buru,” potong seorang cewek yang tadi tepat berada di belakang di tukang ‘nyele’.
Lah ini anak kok malah belain cewek yang udah ‘nyele’ antriannya sih ? Bukannya dia harusnya berterimakasih sama aku ? Emang sih dia baik, tapi kan …
Walaupun kesal, akhirnya aku terpaksa melayani mahasiswi tadi. Hari berlalu dengan cepat, sebagai seorang pengurus aku sudah pasti harus bias berhubungan dengan anggota. Hari ini para mahasiswa baru yang sudah menjadi anggota KOPMA BS UPI dan mengikuti kegiatan Inkubator Bisnis Mahasiswa (IBM) sedang kumpul. IBM yang merupakan salah satu Gugus Cooperative (GC) unggulan di KOPMA BS UPI merupakan GC yang cukup banyak peminatnya.
Saat mendampingi acara kumpulan tersebut, aku lihat seseorang yang pernah kulihat sebelumnya. Orang yang tidak tau terimakasih namun baik hatinya. Orang yang membuatku kesal namun sekaligus juga kagum. Apa yang terjadi denganku ? mengapa menjadi mellow gini ? Seiring berjalannya waktu aku tidak lagi mengindahkan perasaan yang aneh ini, perasaan yang muncul ketika melihatnya.
Alur kaderisasi KOPMA BS UPI yang tidak banyak menyita waktu namun tetap menyenangkan membuatku bangga menjadi salah satu pengurusnya. Salah satunya yaitu Pendidikan Dasar Koperasi (DIKSARKOP). Hari ini aku melihatnya lagi, orang itu. Hati ini bergetar lagi. Hal yang membuat jantungku semakin bergetar ternyata aku memberikan hadiah kepada salah satu peserta. Itu dia. Huaaa dag dig dug.
Allah telah melukiskan jalan hidup ini. Begitu juga yang terjadi denganku. Aku mencoba melupkan dia, tapi ternyata dia merupakan salah satu anggota yang aktif, mengikuti berbagai alur kaderisasi di KOPMA BS UPI tercinta.

Cinta ini berlanjut di KOPMA BS UPI. Hari demi hari berlalu dengan indah. 10 tahun yang kami lewati penuh kebahagiaan bersama kawan-kawan seperjuangan di soko guru perekonomian Indonesia ini. Hari ini aku sudah menjadi salah satu staf ahli dan istriku menjadi manajer KOPMA BS UPI.

Selasa, 11 Maret 2014

ANGIN SEPOI-SEPOI

           Ketika aku ingin mencoba untuk istiqomah dan merubah diri menjadi lebih baik selalu saja ada halangan dan godaannya. Aku teringat pada isi sebuah ceramah yang dibawakan oleh K.H Abdullah Gymnastiar tentang cerita bagaimana angin sepi-sepoi dapat mengalahkan angin ribut dan angin topan dalam menjatuhkan seekor kera dari sebuah pohon kelapa. Si kera terbuai dan akhirnya tertidur di atas pohon kelapa dan akhirnya ia terjatuh, hal tersebut karena buaian angin sepoi-sepoi.
          Mungkin analogi itu sama dengan apa yang sedang aku alami saat ini, PACARAN. Hal yang memang tak asing dan dianggap wajar dalam dunia remaja, tapi berbeda denganku. Setelah menjadi seorang mahasiswi dan banyak berkumpul bersama dengan orang-orang shaleh aku mengerti bagaimana pacaran itu dilarang di dalam Islam. aku bertekad untuk mematuhinya dan terus memperbaiki diri untuk mendapatkan yang terbaik.
          Akhir-akhir ini godaan itu datang, seorang ikhwan yang memberikan perhatian lebih membuat hatiku risau. disisi lain aku ingin bertahan dalam perubahan, namun disisi lain aku juga manusia biasa yang merasa bahagia ketika ada seseorang yang menyayangi. Ya Allah teguhkan hati hamba agar selalu berada dalam lindungan-Mu. aamiin :)

Senin, 30 Desember 2013

ESSAY PERTAMAKU
MBA sebagai Penyebab Utama Angka Putus Sekolah di Indonesia
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOz7lSc5y8J65eipQQFjEW7b0E7tmgJIsY8_dSFETs6Zwj1XjxzYKJ9T6DKc9ls0faeW_VyLuZ4Ljjj0Q0YythdEdsRttiRfBSXIQ37UmoIqgYszZhRxexOQlcKGXrG3lYdJYkV1qQfzQ/s320/1234616236HL.jpg
Apa yang pertama kali terlintas dipikiran Anda ketika mendengar kata MBA ? Apakah MBA yang Anda pikirkan adalah sebuah gelar Magister Bisnis Administrasi (Master of Business Administration) ? Dalam konteks kali ini MBA yang dimaksud adalah singkatan dari Married by Accident yaitu istilah “keren” dari menikah karena ada “kecelakaan” atau ada yang menyebut hamil diluar nikah dan ada juga yang menyebut hubungan diluar nikah, sebenarnya memiliki makna yang sama. Berdasarkan penelitian United Nations Development Economic and Social Affairs (UNDESA), Indonesia merupakan negara ke-37 dengan jumlah perkawinan dini terbanyak di dunia. Untuk level ASEAN, Indonesia berada di urutan kedua terbanyak setelah Kamboja. Tingginya angka perkawinan dini ini berimbas juga pada tingginya rata-rata kelahiran remaja (Age Specific Fertility Rate/ASFR).
Berkaitan dengan permasalahan yang muncul beberapa tahun terakhir di kalangan remaja khusunya yang berstatus pelajar yaitu permasalahan meningkatnya angka putus sekolah, dalam hal ini siswa SMA sederajat. Apabila dahulu penyebab tingginya angka putus sekolah adalah kendala biaya, pada era ini hal tersebut sudah bukan lagi hal yang terlalu dirisaukan, dengan adanya program wajib belajar 9  tahun yang dibiayai pemerintah, para orang tua murid akan dapat menyisihkan sebagian pendapatannya untuk menabung guna keperluan pendidikan anaknya yang tidak ditanggung pemerintah pada masa yang akan datang. Namun sayangnya kemampuan peningkatan tingkat kesadaran pendidikan tidak diimbangi dengan perbaikan moralitas bangsa yang dimana sekarang sedang “trend” putus sekolah dikarenakan MBA.
            Permasalahan ini sejalan dengan hasil temuan lembaga internasional, misalnya saja di Malang ada 99 warga Kabupaten Malang mengajukan dispensasi untuk melangsungkan pernikahan dalam kurun waktu 3 bulan terakhir. Sebab rata-rata umur mereka masih belia atau Anak Baru Gede (ABG) yang artinya setiap hari pasti selalu ada yang mengajukan dispensasi pernikahan. Hal ini meningkat dibandingkan data 2 tahun lalu yang hanya 5 orang per tahun.
            Penyebab utama peningkatan pernikahan dini yaitu pernikahan pada masa remaja mayoritas dikarenakan MBA yang sudah sangat merajalela di negeri kita ini. Lemahnya kontrol orang tua, kurangnya pendidikan kesehatan reproduksi, penyalahgunaan teknologi, kemampuan ekonomi yang rendah, kurangnya pendidikan religusi dan pergaulan bebas adalah beberapa contoh penyebab kasus MBA.
            Hal tersebut tentu sangat memprihatinkan, mengingat jumlah penduduk Indonesia yang terus bertambah secara kuantitas namun ketinggalan jauh secara kualitas. Keprihatinan bertambah mengingat para pemuda pemudi yang menjadi tumpuan dan harapan bangsa dimasa yang akan datang sudah mengalami keterpurukan dimasa yang harusnya menjadi masa keemasannya, masa dimana ia bebas berekspresi dan berkarya sesuai passion-nya tanpa ada suatu ganjalan permasalahan seperti orang yang sudah berumahtangga. Akibat yang ditimbulkan diantaranya rasa malu yang amat mendalam bagi si “pelaku” dan keluarganya, ledakan jumlah penduduk Indonesia dikarenakan tingkat kelahiran yang tinggi, maraknya kasus aborsi, pembuangan bayi, bahkan bayi yang lahir diluar nikah diperjualbelikan oleh orang tuanya sendiri. Tanpa tanggung-tanggung mereka menjadikan aib sebagai ladang komersial.
            Keluarga sebagai pondasi awal pembentukkan kepribadian seseorang hendaknya menjadi pilar yang sangat kokoh dan kondusif untuk menanamkan nilai-nilai sosial maupun religius untuk membentuk karakter seorang pemuda pemudi calon penerus bangsa yang memiliki kepribadian unggul. Disamping keluarga, sekolah sebagai lembaga formal tempat mendidik anak bangsa hendaknya tidak hanya memberikan pembelajaran secara kognitif, tetapi aspek afektif dan religius para siswa juga harus sangat diperhatikan lebih dalam lagi.

Salah satu cara untuk mengurangi masalah tersebut adalah dengan dimasukannya materi pembelajaran tentang sex bukan hanya dalam mata pelajaran Biologi (IPA) namun juga pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Bab akhlak pada mata pelajaran PAI yang biasanya kita bahas yaitu perilaku terpuji dan tercela secara basic, haruslah ditambahkan dengan materi sex dalam kajian Islam secara keseluruhan. Selain itu, adanya kajian keislaman yang rutin juga dinilai dapat membangun pribadi yang lebih baik dan sadar akan nilai-nilai moral. Pembahasan tentang sex dan penguatan pembentukkan kepribadian siswa yang baik dapat pula dilakukan dengan cara pementoringan secara tidak langsung oleh para pendidik maksimal 10 menit setiap jam pertama proses belajar mengajar dimulai.
Dari pihak luar atau nonformal, usahakan ada pemberian penyuluhan secara rutin oleh instansi terkait misalnya Kementrian Sosial atau PKK kepada setiap kepala keluarga untuk memberikan perhatian lebih kepada anaknya dan menerapkan nilai dan norma sosial pada keluarga sejak dini, karena ketidaktahuan orang tua atau kesibukan orang tua yang berlebih inilah yang sangat berpotensi menyebabkan anak “broken home” dan akhirnya mencari kesenangan atau pelampiasan diluar rumah yang tidak menutup kemungkinan bahwa anak tersebut akan melakukan hal-hal yang tidak baik.

DAFTAR PUSTAKA :

Minggu, 29 Desember 2013

Cerpen peserta BM LOVE WRITING 2013


Episode Kehidupan Pemecut Kesuksesan

“Ini semua salah Ayah” suara hatiku yang kesal meratapi nasib yang tak kunjung  membuatku bahagia dalam menjalani kehidupan. Dalam setahun ini aku sudah pindah rumah 3 kali, tepatnya rumah kontrakanku. Semenjak Ayah menghilang, keluargaku menjadi carut marut. Aku bukanlah  orang yang berasal dari keluarga kaya, namun kebersamaan yang keluargaku miliki merupakan harta yang berharga bagiku. Kini  dunia serasa menghimpit keluargaku, seakan-akan keluargaku berada di tepi jurang kebinasaan.
***
Malam itu Ayah baru pulang dari luar kota, pekerjaannya sebagai sopir di sebuah perusahaan membuatnya jarang ada di rumah. Terlihat garis wajah kelelahan tampak jelas kala itu, aku dan ibu yang sedang ayik menonton sinetron menyapa ayah yang memasuki tempat kami nonton tv, kebetulan saat itu kami mengontrak sebuah rumah yang cukup luas.
 “Eh Bapak baru pulang, kemarin nganterin barangnya kemana Pak ?” tanyaku yang tetap fokus pada layar televisi.
“Dari Jakarta” Jawab ayah sambil melangkahkan kakinya  ke arah dapur yang tak lama kemudian keluar.
“Makan dulu Pak”, seru ibu. Namun,  ayah menolak tawaran makan dari ibu dan bergegas keluar rumah, aku dan ibu bertatapan dan bertanya-tanya mau kemanakah ayah yang saat itu baru pulang dari pekerjaannya namun bergegas meninggalkan rumah lagi.
“Mau kemana lagi Pak ? Kenapa tidak makan dulu?”
“Mau nganterin barang lagi, sebentar kok”, Ayah merogoh sakunya dan memberikan beberapa lembar uang kepada ibu untuk biaya hidup kami selama ayah pergi keluar kota.
Tak lama setelah ayah meninggalkan rumah, ibu berpamitan untuk ke warung saat itu juga. Walaupun hari sudah larut, ibu pergi ke warung dengan alasan ingin segera membayar utang-utangnya. Aku menganggukan kepala sebagai tanda mengizinkan ibu pergi.
***
“Kunci pintu rapat-rapat ! siapapun yang datang jangan dibuka ! jagain adikmu” suara ibu yang sedikit bergetar membuatku takut dan bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi. Berkali-kali aku menanyakan pada ibu apa yang telah terjadi sehingga ibu menyuruhku bergegas mengunci pintu dan ibu kembali meninggalkan rumah tanpa berpamitan dulu. Hatiku bergetar dan badai ketakutan melanda jiwaku kala itu, seketika itu juga ku tutup buku pelajaran yang ada di pangkuanku. Kucoba untuk tetap tenang, dan kembali fokus pada sinetron yang sedang aku tonton. Namun, tetap saja hati ini gelisah dan pikiranku melayang-layang membayangkan apa yang sebenarnya telah terjadi. 20 menit kemudian ibu kembali kemudian menyuruhku untuk berkemas dan membangunkan adikku.
Teh ! Cepet beresin bukunya, bangunin si ade “
“Mau kemana mah ?”
“Cepet beresin aja”
Tanpa banyak bicara lagi aku menuruti kata-kata ibu. Dengan mata yang sudah terasa berat aku tiba di rumah salah satu tetangga jauh kami, namanya Bu Tuti. Ibu dengan Bu Tuti memang terbilang sangat dekat, seperti halnya seorang sahabat sejati.  Setelah berbinbincang-bincang sebentar, Ibu pergi sambil  menitipkan aku dan adikku pada Bu Tuti. Malam itu aku dan adikku menginap di rumah Bu Tuti tanpa ibu, dalam hatiku masih bertanya-tanya kemanakah ibu ? Mengapa ia meninggalkan aku dan adikku ?. Hari telah larut malam, tapi mata ini enggan untuk menutupkan kelopaknya, perasaan gelisah masih menjadi penghuni hati ini sehingga membuat aku tetap terjaga.
Pagi-pagi buta ibu datang dan menceritakan apa yang sebenarnya malam tadi terjadi. Mataku yang bulat tak kuasa untuk membendung gelombang air mata yang keluar perlahan. Dunia seakan bergoncang dengan hebatnya sehingga tubuhku tak bisa berdiri tegak walau sedetik.
Sejak saat itu kehidupan kami berubah drastis, kami tidak lagi mengontrak rumah, melainkan numpang di rumah Bibi yang kebetulan tidak ditempati, ayah pergi dan entah ada dimana dan dengan siapa. Atas dasar itulah ibu memutuskan untuk tidak mengontrak rumah karena takut tidak bisa mencicil pembayarannya. Kini ibu menjadi single parent yang harus memperjuangkan hidup aku dan adikku seorang diri. Dengan pekerjaan sebagai buruh disebuah pabrik karung kecil, gajihnya tidak mencukupi, ditambah lagi dengan adanya keputusan pemberhentian kontrak kerja sementara yang secara otomatis membuat ibu menjadi seorang pengangguran.
Bagaikan hembusan angin yang tak tahu arah tujuan, ibu mencari pekerjaan kesana kemari. Namun seperti seorang penjelajah yang tak memiliki kompas, usaha ibu untuk mencari jalan keluar dari permasalahan ekonomi ini tak kunjung mendapat pencerahan. Hingga pada suatu hari, seorang tetangga yang bekerja sebagai penjahit menawari pekerjaan kepada kami, walaupun saat itu aku masih kelas X SMA, tapi aku sudah bisa mengerjakan sedikit keterampilan. Dengan memasangkan kancing pada baju-baju yang dijahit oleh tetanggaku itu, aku bisa mendapatkan uang untuk sekedar ongkos sekolahku.
Seiring berjalannya waktu, ibu mendapat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga disebuah rumah pasangan dokter. Hidup kami tergantung pada besarnya gaji yang diberikan ibu dan bapak dokter yang menjadi majikan ibuku. Tak tega memang hatiku membiarkan ibuku menjadi seorang pembantu rumah tangga, penghasilan yang didapatnya tidak sebanding dengan apa yang dikorbankan.
***
Setelah kejadian malam itu, tak pernah seharipun mata ini absen mengeluarkan butiran-butiran air mata. ‘Ayah’ seorang sosok yang sangat aku banggakan, sangat aku sayangi dan aku hormati ternyata telah membuat aku, ibu dan adikku sengasara seperti ini. Kami diusir secara tidak langsung oleh bibi yang awalnya memberikan kami izin untuk meninggali rumahnya. Aku menangis tersedu dipangkuan ibu, dan menceritakan apa yang aku dengar ketika aku melewati rumah salah seorang tetanggaku, bibiku itu bercerita bahwa kami akan merebut rumahnya. Sakiiit hati ini, mengapa cobaan datang bertubi-tubi kepada keluargaku ?.
Beberapa hari kemudian, ibu memutuskan untuk pindah dari rumah bibiku itu. Kami bahkan tidak tahu harus pindah kemana. Sebenarnya ibu memiliki banyak kakak dan adik-adik lain yang rumahnya tepat berdampingan dengan rumah bibiku yang sekarang aku tinggali. Ketika kami kehilangan arah tujuan, tak ada satupun saudara-saudara ibu yang membantu. Jangankan untuk menawari tempat tinggal sementara, menyapa pun tidak. Lagi-lagi Bu Tuti-lah yang menjadi malaikat kami, ia memiiki tanah kosong dibelakang rumahnya, dengan gotong royong keluarga Bu Tuti membuatkan sebuah gubuk kecil untuk tempat kami hidup. Dengan bermodalkan menjual tabung gas 3 kg yang menjadi satu-satunya harta kami saat itu, ibu membantu membeli anyaman dari kulit bambu untuk dijadikan dinding gubuk kami kelak.

Beberapa hari kemudian, gubuk kecil itu telah siap menyambut kami. Saat proses pindahan itu aku, ibu dan adikku yang masih SD benar-bebar menjadi sebuah tim yang solid. Mengangkut barang ini, barang itu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Entah berapa kali kami bolak-balik melewati rumah-rumah tetangga lain mengangkut barang-barang itu. Tapi bagaikan tontonan yang seru, orang-orang disekitar kami hanya bisa melihat kami dengan berkata “prihatin”.       
Suatu ketika, aku dan adikku mengangkut barang-barang bersama, bibi-bibiku sedang berkumpul disebuah teras rumah salah seorang bibiku. Apa yang mereka lakukan ketika melihat aku dan adikku meringkih menggotong barang-barang yang berat itu ?. TAK ADA RESPON. Sepertinya mereka memang telah menutup mata dan telinga mereka rapat-rapat dengan sumbatan kebencian pada keluargaku. Walau aku sendiri tak tahu mengapa mereka membenci kami.
***
Gubuk kami dengan luas sekitar 3x4 meter-lah kami hidup. Suami Bu Tuti yang bekerja sebagai peternak yang memiliki ratusan itik , kandangnya tepat 1 meter di samping gubuk kami. Setiap malam mata ini enggan untuk terpejam dengan penuh kenikmatan. Suara itik-itik yang mengganggu dan baunya yang membuat hidung kami serasa diracuni itu jelas membuat kami tak nyaman. Namun apa daya, inilah episode kehidupan yang harus keluargaku jalani.
***
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Ayah kembali ! walau dulu aku sempat membencinya, tapi kini ketika ia kembali, hati ini luluh dan menangis dipelukannya untuk menumpahkan semua air mata kerinduan yang selama ini aku pendam. Ayah menjelaskan apa yang selama ini terjadi padanya. Waktu malam itu, ketika Ayah pulang kerja dan bergegas ke dapur, ayah membawa sebuah golok yang disembunyikan dibalik jaketnya yang tebal. Kejadian itu berlalu dengan cepat, ketika amarah menguasai pikiran dan hati ayah. Ia tak sadar akan resiko atas apa yang ia perbuat. Ayah menganiaya seseorang yang ternyata adalah suami dari sahabat karib ibu, tindakan yang menyulut emosi ayah ketika orang tersebut mengirim pesan singkat (sms) kepada ibu dengan kata-kata rayuan dan bisa dikatakan jorok. Tanpa ia sadari bahwa yang selama ini membalas sms itu adalah ayah, bukan ibu. Ayah memutuskan untuk menyuruhnya menunggu disebuah tempat untuk mengadakan pertemuan. Laki-laki itu masih mengira ibu meladeni nafsu syetannya itu. Hingga akhirnya kejadian itu terjadi.
Selama berbulan-bulan ayah menjadi buronan dan meninggalkan kami hidup dalam garis keprihatinan. Aku sekarang tidak menyalahkan ayah, aku sudah cukup dewasa untuk mengerti betul alasan seorang suami melakukan hal tersebut. Demi melindungi orang yang ia sayang dan menjaga kehormatannya, ayah rela mengorbankan dirinya terasing nun jauh disana, meninggalkan kami.
Pada awalnya memang sulit, seluruh kampung tahu percis apa yang telah diperbuat ayahku, status ayahku yang pernah menjadi seorang buronan membuat image keluargaku buruk, mereka hanya melihat dari sudut pandang kesalahan yang ayah lakukan, bukan dari alasan ayah melakukan kesalahan tersebut.
Namun keteguhan hati yang membuatku tetap percaya diri, aku berusaha menutup mata, telinga dan hati dari guyuran hujan cemoohan yang dilontarkan orang-orang kampung pada keluargaku. Bertahun-tahun keluarga kami merangkak mencari setitik kepercayaan untuk melanjutkan episode-episode kehidupan yang lebih baik.

Kini roda kehidupan kami telah berputar kembali. Aku, ibu, ayah dan adikku kembali merajut asa keluarga kami yang sempat tercerai berai disapu ombak cobaan yang datang menghantam kapal kehidupan kami. Begitupun aku, aku dengan image-ku yang sudah tidak suci lagi terus membangun jalan menuju cita dan asa yang ingin aku raih. 
Siapalah aku sekarang ? aku yang pernah mengalami titik terendah dalam kehidupan. Pernah merasakan pahit getirnya hidup tanpa seorang ayah telah menjelma menjadi gadis yang kuat. Aku kini melanjutkan studiku disebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Yogyakarta. Menghasilkan banyak prestasi dengan menuliskan kisah-kisah hidup seseorang yang selama ini ada dalam bayangan, lingkungan dan pandangan mataku. Ya, kini aku berprofesi sebagai penulis novel terlaris. Kudedikasikan semua karyaku untuk KELUARGA. Mungkin tanpa episode kehidupan yang pahit itu, aku tak mungkin menjadi seperti ini.





SEKIAN